
Ilustrasi SPMB di Kabupaten Kutai Timur. (Foto: Ist) nusantarakini.id, SAMARINDA – Kekacauan dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) kembali terulang di Kutai Timur. Tahun ini, lebih dari 600 lulusan SMP di wilayah Sangatta Utara dan Sangatta Selatan gagal tertampung di sekolah negeri, akibat daya tampung yang jauh dari memadai.

Anggota DPRD Kaltim, Arfan, menyebut situasi ini sebagai alarm darurat bagi pemerintah provinsi. Ia menegaskan bahwa permasalahan pendidikan, khususnya akses ke jenjang SMA/SMK, menjadi keluhan utama yang disampaikan warga saat dirinya turun reses ke Dapil.
“Ini bukan sekadar soal SPMB, tapi tentang daya dukung sekolah negeri yang tak lagi seimbang dengan pertumbuhan jumlah siswa. Ini harus jadi perhatian serius Pemprov,” ujar Arfan, Selasa (8/7/2025).
Berdasarkan data, lulusan SMP tahun ini di dua kecamatan tersebut mencapai 2.134 siswa. Namun, total daya tampung dari lima SMA negeri yang tersedia hanya sekitar 1.500 kursi. Sisanya terpaksa mencari alternatif ke sekolah swasta atau bahkan terancam tidak melanjutkan pendidikan.

Sebagai solusi jangka pendek, Arfan mendorong penambahan rombongan belajar (rombel) di sekolah-sekolah negeri yang ada. Menurutnya, skema ini relatif cepat dilakukan sambil menunggu pembangunan unit sekolah baru.
“Minimal penambahan rombel dulu. Kalau untuk SMA Negeri di Sangatta ini sudah masuk dalam program prioritas Gubernur. Tinggal dieksekusi cepat,” jelasnya.
Arfan menambahkan, pembangunan sekolah baru di Kutim juga telah masuk dalam program besar pendidikan gratis yang dikenal sebagai “gratispol”, bagian dari visi Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud.
“Dalam skema gratispol, fokus anggaran diarahkan ke perluasan akses pendidikan. Jadi pembangunan SMA, SMK, dan SLB di titik-titik padat seperti Sangatta seharusnya menjadi prioritas mutlak,” tegas politisi NasDem ini.
Ia mengingatkan, bila persoalan ini terus berulang tiap tahun tanpa solusi struktural, maka ketimpangan akses pendidikan di daerah pertumbuhan seperti Kutim akan makin tajam. Padahal, pendidikan menengah adalah pintu masuk bagi generasi muda untuk bersaing di era IKN dan transformasi ekonomi Kaltim.
“Jangan sampai kita bicara SDM unggul, tapi anak-anak kita gagal masuk SMA hanya karena ruang kelasnya tak cukup,” tutupnya.(W/ADV/SR).

Tidak ada komentar