
Firnadi Ikhsan, anggota Komisi II DPRD Kaltim. (Foto: Ist) nusantarakini.id, SAMARINDA – Kalimantan Timur (Kaltim) menghadapi tantangan serius dalam memenuhi kebutuhan daging masyarakat. Data terbaru menunjukkan bahwa provinsi ini mengalami defisit sekitar 4.000 ton daging setiap tahun dari kebutuhan tahunan sebesar 12.000 ton. Untuk mengatasi kesenjangan ini, Pemerintah Provinsi dan DPRD Kaltim mendorong percepatan program Desa Korporasi Ternak (PDKT) sebagai solusi strategis .
Firnadi Ikhsan, anggota Komisi II DPRD Kaltim, menekankan pentingnya pengembangan peternakan berbasis komunitas di desa-desa. Program PDKT dirancang untuk meningkatkan produksi daging lokal melalui pemberdayaan kelompok masyarakat dengan bantuan bibit ternak, fasilitas kandang, dan pendampingan manajerial. Beberapa wilayah seperti Kutai Timur dan Samboja telah memulai implementasi program ini dengan hasil yang menjanjikan .
“Peternak dibantu dengan hewan, dibantu dengan fasilitas kandang. Harapannya itu bisa menjadi unggulan untuk menjadi peternak handal untuk suplai daging di Kalimantan Timur,” ujar Firnadi.
Program PDKT juga menekankan pada penguatan kelembagaan peternak melalui pembentukan koperasi. Langkah ini bertujuan untuk memastikan keberlanjutan dan efisiensi usaha ternak kolektif.
Namun, Firnadi mengingatkan bahwa kesuksesan program sangat bergantung pada komitmen dan kesabaran para peternak dalam merawat ternaknya, mengingat hasilnya tidak instan.
“Memelihara ini perlu kesabaran dan ketahanan jangka panjang, semisal sapi. Tentu itu tidak instan, dan perlu terus menerus untuk dipupuk kebersamaannya dalam kelompok,” tuturnya.
Dengan strategi yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan produksi, DPRD Kaltim optimis bahwa program Desa Korporasi Ternak dapat menjadi motor utama menuju swasembada daging dan penguatan ketahanan pangan daerah di masa mendatang. (W/ADV/SR)

Tidak ada komentar