
Anggota DPRD Kukar Dapil III Safruddin. (Istimewa) nusantarakini.id, Kutai Kartanegara – Anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) dari Daerah Pemilihan III, Safruddin terus mendorong transformasi pertanian di Kukar menuju arah yang lebih modern, efisien, dan berbasis teknologi.

Dalam berbagai kegiatan sosialisasi, ia menekankan bahwa bertani di era sekarang tidak lagi identik dengan pekerjaan kotor dan berat.
“Kami sosialisasikan bahwa bertani itu tidak perlu kotor. Sekarang sudah banyak alat canggih seperti hand tractor, kultivator, mesin tanam, bahkan panen pun bisa menggunakan komben tanpa menyentuh tanah,” jelasnya.
Ia mencontohkan, bagaimana alat panen modern seperti combine harvester memungkinkan petani memanen padi tanpa harus berlumpur-lumpur, karena operator bisa duduk di atas mesin yang secara otomatis memotong dan memasukkan padi ke dalam karung.

Tak hanya itu, inovasi pertanian juga mulai merambah teknologi digital. Salah satunya adalah drone spray yang memungkinkan petani menyemprotkan pestisida atau pupuk cair dari pinggir sawah tanpa harus masuk ke lahan.
“Drone itu tidak perlu lagi orang turun ke sawah. Cukup dari pinggir sawah, penyemprotan selesai dalam hitungan menit,” terangnya.
Politikus PDI Perjuangan ini menambahkan bahwa beberapa pelatihan telah dilakukan untuk memperkenalkan dan melatih petani mengoperasikan alat-alat pertanian tersebut, termasuk di Desa Sidomulyo yang merupakan salah satu wilayah di Dapil-nya.
“Beberapa bantuan alat pertanian seperti hand tractor dan alat olah tanah roda tiga juga sudah mulai disalurkan tahun ini,” ungkapnya.
Karena harga drone penyemprot yang relatif tinggi mencapai Rp250 juta per unit, Safruddin mendorong pemanfaatan melalui skema Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), sehingga satu unit bisa digunakan bergantian oleh beberapa kelompok.
“Satu Gapoktan itu isinya sekitar lima kelompok. Karena mereka menyemprot tidak bersamaan, satu drone cukup. Dan kalaupun bersamaan, satu hektare bisa selesai dalam beberapa menit,” ujarnya.
Selain itu, ia menambahkan, upaya ini bukan sekadar meningkatkan efisiensi kerja petani, tetapi juga mengubah mindset generasi muda bahwa bertani kini bisa dilakukan dengan bersih, profesional, dan bermartabat.
“Thailand itu sudah ratusan ton hasil padinya tanpa harus berlumpur-lumpur. Kita bisa mencontoh mereka,” tutupnya. (W/ADV/JS)

Tidak ada komentar