x

Edukasi Pilah Sampah Jadi Prioritas, Sopan Sopian Ingin Anak-anak Paham Lingkungan Sejak Dini

waktu baca 2 menit
Selasa, 3 Jun 2025 14:44 0 Redaktur

nusantarakini.id, Kutai Kartanegara – Anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) dari Daerah Pemilihan (Dapil) VI, Sopan Sopian, menaruh perhatian besar terhadap persoalan lingkungan, khususnya dalam hal pengelolaan dan pemilahan sampah sejak usia dini.

Ia menilai bahwa edukasi terhadap anak-anak terkait budaya memilah sampah harus dimulai dari lingkup terkecil, seperti keluarga, sekolah, dan komunitas lokal.

“Anak-anak ke depan perlu dibiasakan memilah sampah, mana yang organik, mana yang plastik. Jadi dari kecil sudah teredukasi, sudah tahu bahwa botol plastik bukan dibuang sembarangan,” ujarnya.

Sopan menjelaskan, saat ini sudah ada infrastruktur dasar pengelolaan sampah di Desa Kayubatu, termasuk alat pencacah plastik dan tempat pembakaran sampah.

Dengan sarana ini, ia berharap dapat mengintegrasikan program edukasi lingkungan kepada pelajar dan warga setempat.

“Sampah-sampah plastik bisa dicacah menjadi bijih plastik, bisa didaur ulang. Anak-anak bisa belajar langsung dari lapangan, tidak hanya teori,” katanya.

Menariknya, Politikus Gerindra juga menyoroti pola pikir masyarakat yang masih abai terhadap kebersihan lingkungan, khususnya di tempat-tempat tongkrongan anak muda.

Untuk mengubah kebiasaan ini, ia mengusulkan ide kreatif, akses Wi-Fi gratis sebagai insentif untuk membuang sampah plastik pada tempatnya.

“Saya pernah lihat di Banjarmasin, botol plastik bisa ditukar dengan akses Wi-Fi. Nah, ini bagus diterapkan di Kukar, terutama di area publik atau taman-taman komunitas. Jadi, orang termotivasi membuang sampah di tempatnya karena bisa dapat internet gratis,” ungkapnya.

Gagasan ini, menurutnya bukan sekadar soal fasilitas, tetapi bagaimana mensugesti pola pikir masyarakat agar terbiasa mencari tempat sampah saat ingin membuang sesuatu.

Dia menekankan, perubahan perilaku akan muncul ketika masyarakat terbiasa melakukan tindakan yang benar secara berulang.

“Kita ingin menciptakan kebiasaan baru. Kalau tiap hari dia buang sampah di tempat yang benar, lama-lama dia pasti akan merasa aneh kalau tidak menemukan tempat sampah. Nah, ini perlahan bisa merubah budaya masyarakat,” tambahnya.

Namun ia juga mengakui tantangan dalam mengedukasi masyarakat yang lebih tua.

“Anak-anak cenderung lebih mudah diarahkan. Kalau orang tua, ada yang paham, tapi juga banyak yang abai. Makanya pendekatannya harus terus-menerus dan kreatif,” tutupnya. (W/ADV/JS)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x