AdvertorialPemkab Kukar

Bupati Kukar Hadiri BBGRM ke-20 Tingkat Provinsi di Desa Batu-Batu Kecamatan Muara Badak

nusantarakini.id, Tenggarong – Pelaksanaan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-20 tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) di Desa Batu-batu Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Acara ini dilaksanakan pada Kamis (19/10/2023). Dihadiri langsung oleh Pj Gubernur Kaltim, Akmal Malik, hadir pula dalam acara ini Bupati Kukar, Edi Damansyah.

Dalam sambutannya, Bupati Kukar Edi Damansyah menegaskan, komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar untuk terus mengoptimalkan peran dan fungsi BBGRM.

Baginya, BBGRM menjadi momen penting, dalam rangka memperkuat rasa persatuan dan kesatuan masyarakat serta memacu pembangunan di tingkat desa.

Edi juga mendorong, sinergi antara pemerintah daerah (Pemda), pemangku kepentingan, dan stakeholder di wilayah desa dan kelurahan. Tujuannya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat dengan kerja bersama.

Tak lupa, Edi juga merasa bersyukur bahwa semangat gotong royong masih terawat dengan baik di Kukar. Ini selaras dengan tagline yang diusung Pemkab Kukar dibawah komandonya, yakni Betulungan Etam Bisa.

“Betulungan itu bahasa Kutai, kalau bahasa Indonesianya gotong royong. Jadi kalau gotong royong semuanya bisa. Kalau kita gotong royong semua persoalan bisa kita atasi secara bersama-sama,” jelas Edi, Kamis (19/10/2023).

Sementara itu, Pj Gubernur Kaltim, Akmal Malik turut menyampaikan pelaksanaan BBGRM sebagai wadah untuk terus menjaga sinergitas dan kolaborasi.

Ia juga mengingatkan bahwa modernisasi harus diikuti dengan totalitas, termasuk dalam pemasaran produk-produk lokal. Pemasaran online menjadi penting dalam mengenalkan produk-produk unggulan daerah.

Akmal Malik mengusulkan pendekatan geospasial untuk mengidentifikasi potensi desa secara lebih akurat. Dengan pendekatan ini, kita dapat melihat potensi pariwisata, ekonomi, sosial, dan lainnya dengan detail.

Akmal juga menyoroti pentingnya mengadopsi teknologi dalam perencanaan desa. Menggunakan data yang kuat, kepala desa bisa menghitung skala ekonomi desa, meramalkan pertumbuhan ekonomi, dan mengalokasikan sumber daya dengan lebih efisien.

“Jangan setengah-setengah kita mengikuti modernisasi. Harus total sebagaimana modernisasi yang juga dilakukan oleh banyak negara di dunia,” pungkasnya. (W/Adv/Ung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *