nusantarakini.id, SAMARINDA – Rencana penyelesaian pembangunan Waterboom di kawasan Pulau Kumala, Kutai Kartanegara (Kukar), senilai Rp400 miliar pada akhir 2025, disambut positif oleh DPRD Kalimantan Timur (Kaltim). Namun, proyek besar itu juga diingatkan agar tak berhenti sebagai ikon semata.
Sekretaris Komisi I DPRD Kaltim, Salehuddin, menegaskan bahwa kehadiran wahana air berskala besar tersebut harus dimaknai sebagai momentum strategis untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata Kukar yang selama ini stagnan.
“Pulau Kumala sudah terlalu lama mati suri. Pembangunan ini harus jadi titik balik, bukan sekadar proyek mercusuar yang megah tapi tidak berdampak,” ujar Salehuddin, Jumat (11/7/2025).
Ia menekankan, fungsi utama destinasi wisata seharusnya menciptakan efek ekonomi berantai. Bukan hanya menarik pengunjung, tapi juga membuka lapangan kerja, menggerakkan pelaku UMKM, dan memberi kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Setelah berdiri nanti, Waterboom harus bisa menghasilkan. Jangan cuma jadi tempat selfie atau foto-foto, tapi tidak menambah apa-apa ke kas daerah,” katanya.
Pulau Kumala, menurut Salehuddin, selama ini justru menjadi beban anggaran karena pengelolaan yang tidak optimal. Ia menyebut banyak peluang yang terbuang akibat ketiadaan sistem yang mendukung keberlanjutan wisata di kawasan tersebut.
“Dulu sempat ada rencana kerja sama dengan pengelola besar seperti Jatim Park, tapi gagal. Itu harus jadi pelajaran. Jangan sampai kita ulangi kegagalan serupa,” tegasnya.
Aspek keamanan dan kenyamanan pengunjung juga disorot. Salah satu masalah klasik seperti mati lampu di jembatan akses Pulau Kumala hingga minimnya penjagaan malam hari dinilai menjadi faktor penurunan minat kunjungan.
“Kalau taman kota di daerah lain bisa tetap aman 24 jam, kenapa di sini jam 10 malam sudah gelap gulita? Ini urusan manajemen dasar yang belum selesai,” tandasnya.
Salehuddin mendorong Pemkab Kukar dan mitra investasinya untuk menyiapkan sistem pengelolaan profesional yang tidak hanya fokus pada peresmian awal, tapi juga menjamin keberlanjutan operasional dalam jangka panjang.
Ia berharap kehadiran Waterboom dapat menciptakan ekosistem wisata yang inklusif, memberdayakan warga sekitar, dan menjadikan Kukar kembali relevan sebagai salah satu destinasi utama di Kaltim.
“Wisata itu bukan sekadar hiburan, tapi mesin ekonomi. Kalau dikelola dengan benar, bisa jadi sumber PAD yang terus mengalir,” tutupnya. (W/ADV/SR).




