nusantarakini.id, Penajam – Masalah putus sekolah di Penajam Paser Utara (PPU) kembali mendapat perhatian dari DPRD. Wakil Ketua II DPRD PPU, Andi Muhammad Yusuf, menyebut angka putus sekolah di daerah itu sudah cukup mengkhawatirkan dan menjadi salah satu indikator utama yang menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal.
Kondisi ini, menurutnya, harus segera ditangani jika PPU ingin bersaing di tengah pesatnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Menurut Andi, PPU tidak bisa bicara soal daya saing tenaga kerja atau perlindungan tenaga kerja lokal jika persoalan mendasar seperti pendidikan belum terselesaikan. Data putus sekolah, katanya, adalah alarm keras yang menunjukkan masih ada persoalan struktural pada sistem pendidikan, ekonomi keluarga, hingga akses layanan dasar.
“Soal pendidikan, data kita ada sekitar 1.400 siswa putus sekolah. Ini penyumbang terbesar rapor merah kita,”ungkapnya.
Angka tersebut, menurutnya, tidak sekadar statistik, melainkan gambaran langsung mengenai kerentanan sosial masyarakat PPU. Dengan jumlah siswa putus sekolah yang besar, daerah berpotensi menghadapi masalah lanjutan mulai dari pengangguran, keterbatasan keterampilan, hingga munculnya kelompok masyarakat yang tidak mampu menembus pasar kerja modern.
Di tengah transformasi kawasan akibat pembangunan IKN, Andi menilai PPU justru harus bergerak lebih cepat dalam meningkatkan kualitas SDM. Tanpa itu, masyarakat lokal hanya akan menjadi penonton dan tidak menikmati peluang ekonomi yang terbuka.
“Kami di DPRD sangat mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia. Bagaimana SDM kita mampu bersaing dengan daerah lain,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM tidak bisa dilepaskan dari upaya menekan angka putus sekolah. Pemerintah daerah, kata Andi, harus menyusun strategi terpadu mulai dari pendataan ulang, pendekatan kepada keluarga yang anaknya berhenti sekolah, hingga penyediaan skema dukungan seperti beasiswa, insentif kehadiran, dan pendidikan nonformal. (W/ADV/SR)




