nusantarakini.id, BALIKPAPAN — Rencana pembangunan Depo Kontainer di kawasan Kilometer 13 Balikpapan Utara mendapat dukungan dari DPRD Kota Balikpapan. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai mampu menjadi solusi penataan distribusi logistik sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Balikpapan.
Anggota Komisi III DPRD Balikpapan, Puryadi, mengatakan pembangunan depo kontainer oleh Dinas Perhubungan (Dishub) merupakan langkah strategis untuk mengurangi aktivitas kendaraan bertonase besar yang selama ini melintas di dalam kota.
Menurut politisi Partai NasDem dari daerah pemilihan Balikpapan Utara itu, nantinya distribusi barang ke kawasan perkotaan cukup menggunakan kendaraan berukuran kecil sehingga arus lalu lintas menjadi lebih aman dan tertib.
“Ini tentu sangat positif. Ke depan distribusi barang di dalam kota tidak lagi menggunakan truk-truk besar, tetapi cukup kendaraan kecil sehingga lebih aman bagi pengguna jalan,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).
Puryadi menjelaskan, rencana pembangunan depo kontainer tersebut sempat dibahas dalam agenda Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027 bersama Dinas Perhubungan. Dalam pembahasan itu, muncul usulan agar pengelolaan depo diambil alih Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Namun demikian, Komisi III DPRD Balikpapan menginginkan fasilitas tersebut tetap berada di bawah pengelolaan Pemerintah Kota Balikpapan agar potensi pendapatan yang dihasilkan dapat langsung masuk ke kas daerah.
“Kemarin memang ada wacana akan dikelola Provinsi Kaltim, tetapi kami di Komisi III sepakat sebaiknya tetap dikelola pemerintah kota supaya PAD-nya masuk langsung ke Balikpapan,” tegasnya.
Selain menjadi pusat aktivitas logistik, kawasan depo kontainer nantinya juga direncanakan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung bagi pengemudi angkutan barang, seperti area istirahat hingga penginapan sopir.
Menurutnya, dengan seluruh aktivitas logistik terpusat di satu lokasi, arus kendaraan berat di dalam kota dapat dikurangi sehingga lalu lintas menjadi lebih tertib dan risiko kecelakaan bisa diminimalkan.
“Kalau nanti semua terpusat di sana, tentu lalu lintas akan lebih tertib. Sopir-sopir juga bisa difasilitasi tempat istirahat maupun penginapan sehingga aktivitas distribusi barang lebih teratur,” katanya.
Puryadi juga menilai keberadaan depo kontainer akan membuka peluang peningkatan pemasukan daerah dari sektor jasa dan distribusi logistik. Meski belum mengetahui secara rinci kebutuhan anggaran pembangunan, ia mengakui proyek tersebut membutuhkan biaya besar karena berskala luas.
“Kalau untuk anggaran saya belum mengetahui detailnya, tetapi karena ini proyek besar tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kalau memungkinkan bisa juga dikerjakan secara bertahap melalui skema multiyears,” pungkasnya.(W/ADV/SR)




