nusantarakini.id, SAMARINDA – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Samarinda terus berupaya meningkatkan cakupan layanan air bersih dengan memperluas jaringan distribusi ke wilayah yang belum terlayani.
Saat ini, cakupan layanan air bersih di Kota Samarinda telah mencapai sekitar 85 persen, sementara pengembangan jaringan difokuskan ke Kecamatan Palaran.
Direktur Teknik PDAM Samarinda, Kaharuddin, mengatakan, peningkatan pelayanan menjadi prioritas utama perusahaan. Selain menjaga kualitas air dan kelancaran distribusi, PDAM juga terus memperluas jaringan agar semakin banyak masyarakat yang memperoleh akses air bersih.
“Berdasarkan data kami, cakupan layanan saat ini sudah mencapai sekitar 85 persen,” ujar Kaharuddin, saat dikonfirmasi, Rabu (1/7/2026)
Ia menjelaskan, sebagian besar wilayah yang belum terjangkau berada di kawasan pinggiran kota, terutama Kecamatan Palaran. Untuk mempercepat pemerataan layanan, PDAM mendapat dukungan pendanaan dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Kaltim, dan Pemerintah Kota Samarinda.
Menurutnya, bantuan dari pemerintah pusat mencapai sekitar Rp22 miliar. Dari total anggaran pengembangan jaringan yang diterima tahun ini, sekitar 70 persen dialokasikan untuk pembangunan jaringan distribusi di Palaran.
“Insyaallah tahun ini kami upayakan Palaran bisa dituntaskan. Sekitar 70 persen anggaran pengembangan jaringan tahun ini difokuskan ke wilayah tersebut,” katanya.
Kaharuddin menambahkan, sosialisasi kepada masyarakat terkait pelaksanaan pekerjaan di lapangan juga telah dilakukan melalui Kantor Kecamatan Palaran agar proses pembangunan jaringan berjalan lancar.
Meski demikian, target cakupan layanan air bersih 100 persen pada 2027 masih menghadapi sejumlah tantangan. Menurutnya, pembangunan jaringan perpipaan membutuhkan investasi besar, terutama untuk menjangkau permukiman yang berjauhan dan berada di wilayah dengan kontur yang cukup sulit.
“Kami tentu mengupayakan target tersebut, tetapi kendala terbesar ada pada pembangunan jaringan perpipaan karena kondisi wilayah dan jarak antarpermukiman yang memerlukan anggaran cukup besar,” jelasnya.
Di sisi lain, Kaharuddin memastikan meningkatnya biaya operasional akibat pemadaman listrik tidak akan berdampak pada tarif air dalam waktu dekat.
Ia mengakui, setiap kali listrik padam, PDAM harus mengoperasikan genset dengan bahan bakar Dexlite yang harganya sekitar Rp19.000 per liter sehingga biaya operasional ikut meningkat. Meski demikian, ia menegaskan hingga saat ini belum ada rencana menaikkan tarif air.
“Tidak ada rencana kenaikan tarif maupun biaya distribusi air saat ini. Penyesuaian tarif tetap mengikuti mekanisme dan kebijakan yang telah ditetapkan,” tegasnya.
Selain memperluas cakupan layanan, PDAM Samarinda juga menargetkan penambahan jumlah pelanggan setiap tahun. Peningkatan kapasitas pelayanan akan terus dilakukan agar kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi seiring bertambahnya jumlah pelanggan di Kota Samarinda. (*)




