nusantarakini.id, SAMARINDA – Tingginya angka kematian ibu di Kalimantan Timur menjadi cermin bahwa pendekatan layanan kesehatan belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan di masyarakat. Sekretaris Komisi I DPRD Kaltim, Salehuddin, menilai perlu adanya reformulasi strategi layanan kesehatan ibu yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur dan tenaga medis, tetapi juga edukasi berbasis budaya lokal.
“Masalahnya bukan hanya soal fasilitas yang kurang, tapi cara pendekatan kita yang belum membumi. Banyak masyarakat masih enggan ke fasilitas kesehatan karena merasa lebih nyaman dengan praktik tradisional,” ujarnya, Senin (14/7/2025).
Salehuddin mencontohkan kondisi di beberapa wilayah Kutai Kartanegara, termasuk di Muara Kaman, di mana masyarakat masih mengandalkan dukun beranak meski bidan tersedia. Menurutnya, ini bukan semata soal ketidaktahuan, melainkan juga persoalan kepercayaan yang belum dijembatani oleh sistem layanan formal.
Ia menilai penting adanya intervensi yang lebih kontekstual. Pendekatan komunikasi yang sensitif terhadap kearifan lokal diyakini dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat terhadap layanan kesehatan maternal.
“Kita tidak bisa hanya mengedarkan brosur atau pasang spanduk. Harus ada keterlibatan tokoh adat, tokoh agama, dan pendekatan komunitas agar edukasi berjalan efektif,” tegasnya.
Selain itu, Salehuddin mengkritik lemahnya koordinasi antara Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten/kota, yang selama ini dinilainya terlalu administratif. Ia mendorong adanya forum lintas wilayah yang fokus pada strategi pencegahan berbasis komunitas dan data mikro wilayah.
“Selama ini kerja sama hanya sebatas laporan kasus. Padahal, program harus dirancang bersama dan menyentuh langsung ke masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan bahwa menekan kematian ibu bukan sekadar tanggung jawab medis, tetapi juga kerja sosial dan budaya. Untuk itu, DPRD Kaltim siap mendorong sinergi lintas sektor guna membentuk pendekatan baru yang lebih manusiawi dan tepat sasaran.
“Kita harus ubah cara berpikir. Kesehatan ibu bukan hanya soal rumah sakit, tapi soal komunikasi dan kepercayaan,” tutupnya. (W/ADV/SR).




