nusantarakini.id, Kutai Kartanegara – Anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) Daerah Pemilihan (Dapil) V, Ahmad Yani, menegaskan perlunya langkah terobosan untuk melahirkan generasi petani milenial di wilayah tersebut.
Menurutnya, pola bercocok tanam tradisional yang selama ini dijalankan orang‐orang tua tidak lagi menarik bagi anak muda, sehingga sektor pertanian dikhawatirkan kehilangan pewaris.
“Sekarang kita harus ciptakan petani milenial. Jangan lagi pakai pola lama. Kalau cara konvensional tetap dipertahankan, anak‐anak muda tidak akan tertarik turun ke sawah,” ujarnya.
Ia mengusulkan, pemerintah kabupaten bersama dinas terkait membuka pelatihan pertanian modern yang mengajarkan teknik budidaya berbasis teknologi, digital farming, hingga manajemen usaha tani.
“Lewat sekolah atau pelatihan intensif, anak muda bisa lihat bahwa bertani itu bisa sekeren pekerjaan lain,” tegasnya.
Lebih jauh, legislator Komisi IV itu menyoroti pentingnya permodalan dan insentif demi menarik minat generasi muda.
Yani menyarankan, adanya skema rekrutmen dengan gaji dasar dan bonus hasil panen, plus akses kredit lunak atau hibah alat pertanian berbasis Internet of Things (IoT).
“Kalau hanya dikasih alat tanpa kontrak kerja atau insentif khusus, anak muda tetap akan lari ke sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan. Harus ada paket lengkap seperti pelatihan, modal, pendampingan, dan imbal balik finansial jelas,” paparnya.
Dia menilai, program semacam ini akan memberi dua manfaat strategis ketahanan pangan daerah terjaga, sekaligus menurunkan angka pengangguran muda di Kukar. Ia menekankan, bila pemerintah serius, regenerasi petani dapat tercapai dalam lima tahun ke depan.
“Dengan teknologi, satu hektare bisa di‐mapping lewat drone, irigasi otomatis, bahkan jual panen via marketplace. Ini yang mesti dikenalkan sejak dini. Anak muda suka tantangan dan teknologi, kita tinggal membuka jalan,” pungkasnya. (W/ADV/JS)




